Menjadimanusia yang ridho kepada Allah dan diridhoi Allah karena inilah cita-cita tertinggi seorang muslim. Seperti halnya, motto dari salah satu dosenku, "Bekerja keraslah, karena sukses adalah keniscayaan". Disini pun, ada indikasi memantaskan diri. Bekerja keras adalah syarat untuk memantaskan diri menjadi orang yang sukses.
Sebagaicontoh dan referensi, berikut ini telah kami paparkan beberapa quotes islami tentang jodoh dan ulasan singkatnya. Semoga saja ada kutipan yang mewakili perasaanmu. Selamat membaca! 1. Fokus Memantaskan Diri. Ada saatnya kamu memperjuangkan dan diperjuangkan oleh seseorang. Bersabarlah dan fokuslah untuk memantaskan dirimu.
Maksuddari memantaskan diri adalah berusaha berbenah diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena janji Allah, orang baik pasti akan dijodohkan dengan yang baik pula begitu juga sebaliknya, sebagaimana yang telah Allah tegaskan pada Surah an-Nur ayat 26:
videoini dibuat untuk memenuhi tugas akhir semester mata kuliah parenting, yg diampu oleh dosen Bu Nuraini M.pd. mohon maaf apabila ada kesalahan dalam vide
Dalammasa penantian ini pun bisa diisi dengan memperbaiki dan memantaskan diri agar mendapatkan jodoh yang terbaik. Karena pada dasarnya jodoh adalah cerminan diri. Mencari jodoh dalam Islam bisa dimulai dengan memperbaiki dan memantaskan diri. Karena wanita yang baik untuk laki - laki yang baik. Wanita yang keji untuk laki - laki yang keji.
Tipsmemantaskan diri . 1. Belajar taat pada syariat Islam. Belajarlah taat pada syariat Islam. Sebab ketaatan kepada Allah adalah telah
. Tanya Ana mau bertanya tentang memantaskan diri, jodoh itu kan di tangan Allah, segala sesuatu tentang jodoh diatur oleh Allah kita sebagai muslimah hanya bisa memantaskan diri, bagaimana sih cara yang tepat untuk memantaskan diri? Ana sdh memutuskan utk tidak pacaran, tidak dekat dengan lawan jenis. Namun ada seorang teman yang berkata, “Masa’ iya kalau kita hanya diam begitu saja jodoh kita akan datang kerumah mengetuk pintu?” Lalu kita sebagai wanita harus bagaimana dan seperti apa dalam penantian? Terimakasih. via emailJawabalaikumussalam wrwb. Terima kasih sudah berkirim email kepada kami. Mbak Iin, betul bahwa jodoh itu di tangan Allah Ta’ala. Kita hanya bisa berusaha. Sama seperti rizki dan kematian, jodoh adalah masalah ghaib. Allah Ta’ala yang mengatur dan menentukan. Namun demikian, sama seperti rizki dan kematian, kita bisa mengusahakan semaksimal kita bisa untuk mendapatkan rizki dan menghindari segala bentuk yang umumnya bisa mengantarkan kepada kematian. Ini persoalan keyakinan kita kepada takdir Allah Ta’ diri itu memang perlu. Sama seperti ketika kita di sekolah. Jika kita sudah bersiap menghadapi ujian sekolah dengan belajar semaksimal kita bisa, insya Allah kita akan mendapatkan hasil sesuai dengan kepantasan yang sesuai. Orang yang tak siap menghadapi ujian karena ia justru malah santai saja, maka hasil yang ia dapatkan juga tak sebagus yang didapat orang lain. Ini soal kepantasan. Jika jodoh tak kunjung datang, tetaplah bersabar. Ada baiknya interospeksi diri, apa yang kurang dalam diri. Mungkin kurang bersyukur atas nikmat Allah Ta’ala, mungkin juga kurang sabar, mungkin juga kurang beramal shalih, mungkin juga kurang taat melaksanakan kewajiban, dan “mungkin-mungkin” lainnya yang bisa dievaluasi secara jika ingin mendapatkan jodoh—apalagi jodoh yang baik, kita juga harus berusaha menjadi baik. Firman Allah Ta’ala yang artinya “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji pula, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula.” QS an-Nuur [24] 26Jodoh memang harus dicari, tetapi pastikan cara mencarinya sesuai tuntunan ajaran Islam. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai ada yang mudah mendapatkan jodoh, tetapi caranya salah misalnya melalui pelet, guna-guna, sihir. Sebagai muslim kita terlarang melakukan perbuat syirik tersebut. Cobalah Mbak Iin memperluas pergaulan. Misalnya mulai aktif ikut kajian keislaman di masjid atau mejelis taklim, niatnya tentu untuk mencari ilmu. Kadang, jodoh datang bukan dari pertemuan langsung dengan orangnya, tetapi juga melalui orang lain yang mempertemukan dengan jodoh kita. Maka, jika kemudian ada efek samping’ berupa tawaran jodoh, itu bonus’ dari niat ikhlas Mbak Iin dalam mencari ilmu di tempat tersebut. Seringnya kita bertemu dengan orang lain, apalagi yang baik-baik shalih/shalihah, maka peluang untuk mendapatkan jodoh kian terbuka lebar. Tetapi, pastikan tidak ada interaksi yang diharamkan ketika terjadi pertemuan hindari kriteria untuk mendapatkan jodoh dengan kriteria yang muluk atau tinggi. Janganlah mengharapkan kesempurnaan dari orang lain, sementara diri kita masih jauh dari disebut baik. Kadang, ini yang mungkin menjadi penghambat mendapatkan yang perlu Mbak Iin lakukan tawakal, tetap berusaha semaksimal bisa dilakukan, dan barengi dengan doa serta memantaskan perilaku agar sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Semoga Allah Ta’ala memudahkan jodoh Mbak Iin. [Tim Konseling, MuslimahWebID] *Sumber gambar klik di sini
Cara mendekatkan diri kepada Allah SWT memang perlu kita ketahui sebagai umat islam yang sadar akan statusnya sebagai hamba. Jika kita dekat dengan Allah, tentu dapat memberikan ketenangan pikiran dan hat. Semakin manusia dekat dengan Allah, maka hidupnya akan penuh berkah dan nikmat. Allah SWT telah memberikan kepada hambanya limpahan nikmat dan karunia yang sangat banyak bahkan tanpa henti. Melalui nikmat tersebut, menjadi cara Allah untuk dekat kepada hambanya. Hanya saja, seorang manusia tidak luput dari rasa cukup dan selalu merasa kurang. Sehingga menimbulkan rasa hidup yang lebih berat dan kurang nikmat. Nah, dari fenomena tersebut tentu kita perlu menanamkan kunci penuh berkah dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebab, dengan dekat kepada Allah SWT seorang hamba akan lebih bersyukur atas karunia hidup serta memiliki ketenangan lahir dan batin. Lalu bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah? Simak ulasannya pada penjelasan di bawah ini. Cara Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT 1. Mendirikan Sholat2. Berdzikir4. Berdoa4. Membaca Al Quran5. Melakukan Amal Shaleh6. Selalu BersyukurYuk, Subscribe Sekarang Juga!7. Menjauhi LarangannyaRelated posts 1. Mendirikan Sholat Sumber google/bersosial Cara mendekatkan diri kepada Allah SWT yang bisa kita lakukan adalah dengan mendirikan sholat. Melalui sholat, umat muslim dapat lebih dekat dengan Allah SWT. Alasannya karena ibadah sholat merupakan perintah wajib yang harus dilaksanakan setiap muslim. Mendirikan sholat juga dapat memberikan ketentraman jiwa dan kesehatan fisik manusia, sehingga hidup lebih bahagia. Baik sholat wajib dan sholat sunnah dapat dikerjakan umat muslim sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah. Dengan menjalankan apa yang Allah perintahkan, maka Dia akan menyukainnya dan membuat kita menjadi semakin dekat dengan Allah. 2. Berdzikir Sumber google/bersosial Berdzikir menjadi cara mendekatkan diri kepada Allah SWT lainnya yang bisa kita lakukan. Kita bisa berdzikir selepas mengerjakan ibadah wajib dan sunnah seperti sholat. Secara pengertiannya dzikir adalah menyebut nama Allah dengan membaca tasbih, tahmid, tahlil, takbir, taqdis, dan lainnya. Sehingga dengan membaca dzikir dapat menjadi cara mendekatkan diri kepada Allah SWT. 4. Berdoa Sumber google/bersosial Berdoa merupakan cara seorang hamba meminta, berserah diri, dan memohon sesuatu kepada Allah. Umat muslim memang dianjurkan untuk menyerahkan segala persoalan hidup dan mengadu kepada Allah SWT. Dengan begitu, melalui doa menjadi cara komunikasi seorang hamba kepada Allah SWT. Kita akan merasa lebih dekat dengan Allah saat berdoa. Doa tersebut dapat kita panjatkan selepas sholat ataupun saat mendapatkan sebuah nikmat tak terduga. Mintalah kepada Allah saat kita membutuhkan pertolongan atau jalan keluar. Sebab, dengan berdoa kita akan merasa bahwa Allah ada dan begitu dekat untuk melewati segala macam persoalan hidup. Imam Al Muzani rahimahullah dalam Syarhus Sunnah pernah berkata “Allah itu dekat ketika ada yang berdoa. Allah itu jauh keperkasaan-Nya dari makhluk, tidak mungkin dikalahkan oleh makhluk.” 4. Membaca Al Quran Sumber google/bersosial Al-Quran merupakan kitab suci yang telah Allah SWT turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagai umat muslim diperintahkan untuk membaca dan mengamalkan Al Quran. Al Quran juga menjadi pedoman hidup manusia dan petunjuk dari Allah. Dengan membaca setiap ayat Al Quran dan mengamalkannya, maka Allah akan semakin dekat dengan hamba-Nya. Selain mendatangkan pahala, membaca Al Quran juga akan membuat hidup penuh berkah, lho! 5. Melakukan Amal Shaleh Sumber google/bersosial Amal shaleh merupakan implikasi dari keimanan seseorang. Amal shaleh memiliki tempat yang mulia dalam ajaran Islam. Oleh karena itu, Islam memberikan balasan kebajikan untuk orang-orang yang istiqomah dalam beramal shaleh. “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” QS. An-Nahl 97 Ketika kita melakukan amal shaleh, berarti diri kita sedang dekat dengan Allah. Yakinilah, Allah akan selalu dekat bahkan lebih dekat dari urat nadi kita. Yuk, Subscribe Sekarang Juga! 6. Selalu Bersyukur Sumber google/bersosial Cara mendekatkan diri kepada Allah SWT selanjutnya adalah dengan selalu bersyukur. Bersyukur dapat diartikan sebagai menerima apa yang Allah berikan dalam hidup dengan ikhlas dan tanpa mengeluh. Nah, cara untuk selalu bersyukur dapat kita lakukan adalah dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat dan rezeki yang diterima semata-mata atas karunia dan kemurahan dari Allah SWT. Terdapat dua macam cara bersyukur yang bisa dilakukan, diantaranya bersyukur dengan lisan serta bersyukur dengan memanfaatkan nikmat yang telah diberikan dengan bersedekah atau memanfaatkan sebaik mungkin. 7. Menjauhi Larangannya Sumber google/bersosial Segala hal yang Allah larang dan membawa mudharat, sebaiknya kita hindari jika ingin lebih dekat kepada Allah. Misalnya menjauhi perbuatan maksiat, perbuatan dosa, melukai hati orang tua, perbuatan tercela, serta perbuatan yang lainnya. Dengan begitu, kita dapat melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi segala larangan-Nya sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah. Demikianlah cara mendekatkan diri kepada Allah yang dapat Anda ketahui. Semoga langkah atau cara tersebut dapat kita amalkan dengan istiqomah. Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua dan meridhai setiap langkah serta selalu dekat dengan kita. Aamiin Ya Rabbal’alamiin. Ingin membaca informasi menarik dari artikel lainnya? Anda bisa mengunjungi situs blog Evermos. Karena banyak informasi seputar keislaman lainnya yang bisa Anda simak dan insya Allah bermanfaat. Related posts
Jum'at, 27 Zulqaidah 1444 H / 8 Maret 2019 2353 wib views Oleh Widya* Bulan Maret, bulan yang identik dengan wanita. Kenapa? Karena pada bulan ini diperingati Women International Day, yakni pada tanggal 8 Maret. Wanita, adalah makhluk Tuhan yang mulia. Mereka memiliki peran yang tidak akan tergantikan oleh pria hebat sekalipun. Islam sangat memuliakan wanita, ketika ia bersama orangtua dan menjadi anak yang sholeha, ia menjadi jalan pembuka surga bagi orangtuanya. Ketika menikah dan menjadi istri, ia pun berperan menentukan surga neraka suaminya. Ketika menjadi ibu, ada yang mengatakan surga di bawah telapak kakinya. Penghargaan terhadap peran ini diberikan oleh Rasulullah SAW yang menempatkan sikap bakti anak lebih utama terhadap ibu daripada ayah. “Seseorang pernah datang dan bertanya kepada Rasulullah SAW, 'siapa yang lebih diutamakan untuk menerima perbuatan baikku?', Nabi menjawab, 'Ibumu', 'Setelah itu siapa lagi?', 'Ibumu', 'Setelah itu siapa lagi?', 'Ibumu', 'Setelah itu siapa lagi?', 'Bapakmu'" HR Mutafaq alaih. Peran seorang ibu sangatlah agung. Ibu yang telah mengandung, melahirkan, dan menyusui anak-anaknya dengan kepayahan. Peran penting lainnya ialah ibu sebagai pencetak generasi masa depan, dari rahimnya kelak melahirkan generasi masa depan cemerlang dan gemilang untuk dapat memberikan peran terbaik bagi peradaban. Ibu pula yang akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ibu pula lah yang memiliki peran untuk mengelola rumah tangga suaminya. Rasulullah bersabda, “Seorang wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepengurusannya” ...Sungguh mulianya wanita. Tak perlu ide kesetaraan gender, tak perlu menuntut emansipasi. Allah muliakan wanita sesuai fitrahnya. Lantas, kenapa masih mencari selain islam dalam memuliakan wanita? Perempuan yang menyadari aktivitas ini, akan memantaskan diri untuk menjadi seorang ibu yang hebat. Karena di pundaknyalah tanggung jawab sebagai pilar peradaban. Sebagaimana kita ketahui pilar adalah sandaran. Ibu tempat bersandar suami dan anak-anaknya. Maka, para ibu haruslah kuat baik secara fisik maupun psikis. Bagaimana para ibu memantaskan diri menjadi pilar peradaban? Berikut beberapa cara yang bisa dicoba 1. Berusaha menjadi Muslimah yang berkepribadian tangguh. Maka, agar mendapatkan ketangguhan tersebut sekalipun telah menjadi ibu, ia tidak akan meninggalkan aktifitas tholabul ilmi’ dalam rangka terus meng-upgrade diri untuk menjadi pribadi yang benar di hadapan Allah. 2. Menjadi muslimah yang bertaqwa, sebagaimana disebutkan dalam Al-Hujurat 13, yang artinya, "Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.” Para ibu akan menyadari betul bahwa penilaian Allah di atas segalanya. Ia akan berusaha maksimal melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Berupaya lebih kuat untuk mengikatkan diri pada aturan-aturan Allah dalam kehidupannya. 3. Menguasai ilmu pengasuhan sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Karena sesungguhnya manusia terbaik adalah Rasul Muhammad yang terbukti telah sukses dalam mendidik keluarganya. 4. Menjadi ibu yang senantiasa ber-amar ma’ruf nahi munkar. Seorang ibu yang memiliki visi bagaimana menjadi pilar peradaban tidak akan bersikap egois. Dia tidak hanya berpikir bahwa hanya diri dan keluarganya saja yang terdidik dengan benar menurut Allah, tapi ia juga akan berupaya untuk mendidik masyarakat. Ia sadar bahwa lingkungan di sekitarnya juga berpengaruh pada pendidikan anak-anaknya, maka ia pun peduli untuk menjadikan lingkungan di sekitarnya menjadi lingkungan yang baik. Ibu yang peduli terhadap masa depan generasi, maka ia pun akan berkiprah sesuai dengan keahliannya dalam membangun peradaban. Peran wanita, peran ibu sebagai pilar peradaban sejatinya merupakan kerja besar dan berat. Maka, hendaklah kita senantiasa melibatkan Allah dalam menjalani perannya. Allah Swt berfirman, “..Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar.” QS. Ali `Imran [3] 173. Sungguh mulianya wanita. Tak perlu ide kesetaraan gender, tak perlu menuntut emansipasi. Allah muliakan wanita sesuai fitrahnya. Lantas, kenapa masih mencari selain islam dalam memuliakan wanita? Tak cukupkah tinta hitam sejarah menggambarkan kecacatan selain Islam dalam memandang wanita dan memperlakukannya? Sudah saatnya kita kembali pada fitrah kita, fitrah iman dan islam yang hakiki. Memeluk islam secara kaffah, menerapkannya dalam sendi-sendi kehidupan kita. Wallahu alam. rf/ Penulis adalah founder Komunitas Muslimah Menjahit dan Storytellingclub. Ilustrasi Google Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita! +Pasang iklan Gamis Syari Murah Terbaru Original FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai. Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas? Di sini Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan > jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub 0857-1024-0471 Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller NABAWI HERBA Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon 60%. Pembelian bisa campur produk > jenis produk.
- Kemandirian atau sikap mandiri dalam Islam merupakan jalan untuk menjaga harga diri seorang muslim yang beriman dengan hanya bergantung pada Allah dan bukan pada makhluk-Nya. Setiap muslim yang beriman hendaknya membangun kemandirian dalam dirinya. Sebab, kemandirian dapat menjadi jalan untuk menjaga harga diri dirinya. Dia tidak bergantung pada orang lain sehingga menghindarkannya dari sifat meminta-minta. Orang yang mandiri pantang untuk menengadahkan tangan pada makhluk Allah lainnya. Dia rela harus bekerja keras demi mencukupi kebutuhan hidupnya. Satu-satunya tempat untuk menyandarkan beban dan berkeluh kesah hanyalah pada Allah yang berkuasa atas segala sesuatu. Mengutip buku Akidah Akhlak 2020, tuntunan dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam untuk hidup mandiri ada dalam sebuah hadits shahih. Nabi Muhammad bersabda ”Dari Abi Abdillah Zubair bin Awwam ra dari Rasulullah Saw, Beliau bersabda Sesungguhnya seorang di antara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar yang diletakkan di punggungnya untuk dijual, sehingga ia bisa menutupi kebutuhannya adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak.” Bukhari. Saat seseorang menunjukkan perilaku mandiri, maka dia memiliki kebebasan dari pengaruh orang lain. Orang tersebut mampu menentukan sendiri hal yang harus dilakukan, menentukan dalam memilih berbagai kemungkinan dari perbuatannya, dan mencari solusi sendiri dari masalah yang dihadapinya tanpa melibatkan campur tangan orang lain. Ciri Sikap Mandiri dalam Islam Mengutip laman UIN Walisongo, kemandirian adalah keadaan seseorang yang memiliki tekad berdiri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Sufyarma dalam buku Kapita Selekta Manajemen Pendidikan 2003 50 menyebutkan ciri-ciri orang mandiri dapat dilihat dari sikap berikut 1. Progresif dan ulet. Contohnya yaitu bertekad kuat dalam meraih prestasi terbaik dengan usaha yang penuh ketekunan, terencana, dan bertahap mewujudkan harapannya. 2. Memiliki inisiatif. Artinya, orang yang mandiri mampu berpikir dan bertindak secaraoriginal, kreatif, dan penuh inisiatif. 3. Mampu mengendalikan dari dalam. Dia mampu mengatasi masalah yang dihadapi, mampu mengendalikan tindakannya, dan mampu mempengaruhi lingkungan dengan usahanya sendiri. 4. Kemantapan diri. Hal ini mencakup dalam aspek kepercayaan pada diri dan Contoh Sikap Mandiri dalam Islam Nabi Muhammad sangat menganjurkan umatnya untuk bisa mandiri dalam ekonominya. Orang yang hidup mandiri cenderung bebas hutang budi pada siapa pun. Dan, hikmah penting dari orang yang bertekad untuk selalu mandiri adalah memiliki derajat lebih baik dari peminta-minta. Mengutip laman NU, sekali pun hasil jerih payah sendiri menghasilkan hanya sedikit suap nasi, namun keadaan itu jauh lebih baik. Para nabi adalah contoh terbaik dalam kemandirian untuk menghidupi dirinya sendiri. Sebuah hadits menyebutkan "Dari Miqdam, dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda, 'Tiada sesuap pun makanan yang lebih baik dari makanan hasil jerih payahnya sendiri. Sungguh, Nabi Daud AS itu makan dari hasil keringatnya sendiri'.” HR Bukhari Kemandirian diukur dari perilaku seseorang dan bukan karena usianya. Orang lebih muda bisa jadi lebih mandiri dari orang yang lebih tua. Dan, kemandirian merupakan salah satu bentuk untuk mengubah nasib sendiri dari keadaan yang kekurangan menjadi situasi yang lebih baik. Allah pun memerintahkan hambaNya agar mau mengubah nasibnya sendiri. Hal itu bisa ditempuh dengan sikap mandiri di segala bidang. Dengan kerja keras, doa, dan tawakal akan menjadikan kemandirian menjadi berbuah manis bagi kehidupan. ”Sesungguhnya Allah Swt tidak akan merubah keadaan nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan nasib yang ada pada diri mereka sendiri.”QS. Ar-Rad 11 Baca juga Pengertian Sikap Disiplin dalam Islam Ciri, Contoh dan Hikmahnya Dalil Sholat Tarawih 11 Rakaat dan 23 Rakaat dalam Islam - Pendidikan Kontributor Ilham Choirul AnwarPenulis Ilham Choirul AnwarEditor Yulaika Ramadhani
Memantaskan diri, adalah kalimat yang sering kita dengar terkait tentang jodoh, tapi kita perlu tahu apa yang terkandung dalam kalimat ini. Ketika kita pantas, maka kita berhak untuk menagih. Seperti buruh yang pantas mendapatkan uang setelah bekerja keras. Tapi bedanya kita dengan buruh, si majikan tidak pernah menciptakan dia. Majikan tidak pernah memberi dia mata, tidak memberi dia tangan. Berbeda dengan Allah, karena sebelum kita mendapatkan tugas dengan Allah, Allah sudah menciptakan kita, sudah memberi banyak kepada kita. Jika Allah tidak membalas kita karena perbuatan kita, itu pun sudah cukup bagi Allah, karena Allah sudah memberi banyak bagi kita. Kita tidak bisa apa-apa tanpa bantuan dan jasa baik dari Allah. Bantuan dan jasa baik dari Allah kita rasakan perdetik, bukan lagi per hari dan per menit, tapi per detik. Setiap detik kita merasakan kebaikan dari Allah, yang mana kebaikan itu kita rasakan detik per detik, dan kebaikan itu begitu vital bagi kita. Begitu vital, karena kebaikan itu berupa hajat hidup kita. Maka kita tidak pantas untuk menagih kepada Allah, karena Allah begitu baik pada kita. Allah telah memberi anugerah yang lebih besar dibandingkan ibadah kita. Ibadah kita adalah lebih kecil, jauh dari apa yang kita terima dari nikmat Allah. Juga kita tidak tahu apakah ibadah diterima atau ditolak? Apakah ibadah kita ini setimpal dengan nikmat Allah yang begitu banyak? Nikmat mata bisa dibayar dengan bersujud selama lima ratus tahun, demikian kata ulama. Ini baru nikmat mata. Padahal nikmat mata tidak bisa berdiri sendiri tanpa nikmat lain. Semua organ tubuh manusia adalah berkaitan, bahkan bisa dibilang berkaitan secara langsung. Tidak ada organ tubuh yang bisa berdiri sendiri. Maka nikmat Allah jauh lebih besar daripada ibadah dan syukur yang kita lakukan kepada Allah. Amal ibadah kita terlalu kecil jika dibandingkan dengan nikmat Allah. Maka ketika Allah tidak memberi balasan pada kita atas amal kita pun sudah cukup untuk alasan Allah. Karena nikmat Allah sudah begitu banyak dan besar kita rasakan. Tetapi Allah begitu Maha Baik, meski sudah memberikan banyak, dan balasan serta syukur manusia begitu sedikit, tapi Allah tetap berjanji memberikan balasan. Jadi kita menerima balasan bukan karena kita berhak, tapi karena Allah telah berjanji. Konsep balasan Allah tidak sama dengan konsep balasan buruh. Di mana konsep balasan buruh adalah sesuai dengan hasil kerja. Dan buruh berhak atas upah kerja karena telah bekerja. Tapi kita mendapatkan pahala karena kemurahan Allah yang sudah bermurah untuk memberikan balasan bagi yang beramal. Ketika kita diberi pemberian oleh Allah, maka kita harus berterima kasih. Artinya ketika kita mendapatkan balasan dari Allah, maka balasan itu bukan karena amal kita. Tapi karena kebaikan Allah yang memberikan balasan. Bukan karena kita berhak dan Allah wajib memberikan. Tidak ada yang bisa mewajibkan sesuatu pada Allah. Tetapi Allah yang bermurah untuk membalas amal kita. Kita sering mendengar istilah memantaskan diri, terutama dalam konteks perjodohan. Tapi sudahkan kita tahu apa yang ada di balik kata memantaskan diri? Memantaskan diri berarti kita membuat diri kita pantas mendapat jodoh. Ketika kita memiliki target jodoh tertentu, yang mana jika kita memiliki kriteria jodoh yang kita inginkan, maka kita harus memantaskan diri agar sesuai dengan kriteria kita. Padahal jodoh tidak selamanya memiliki rumus itu, tidak selamanya sesuai dengan rumus yang kita terapkan dalam kehidupan manusia. Banyak yang memiliki keyakinan ketika kita ingin memiliki jodoh dengan spesifikasi tertentu, maka kita harus memantaskan diri untuk spesifikasi yang kita inginkan dari jodoh itu. Ada yang menginginkan jodoh dengan kriteria tinggi, maka dia harus menaikkan spesifikasinya, agar nanti ketika sudah pantas, dia akan mendapatkan jodoh yang dia inginkan dengan spesifikasi yang cocok. Padahal jodoh tidak selamanya seperti itu. Tidak berdasarkan kepantasan dan kepatutan tertentu. Jodoh adalah pilihan Allah. Akhirnya ketika dia tidak menemukan jodoh dengan spesifikasinya, maka dia tidak mau menikah. Ketika tidak ketemu jodoh yang sesuai spesifikasi, maka dia bisa jadi menggerutu dan menyalahkan Allah, karena merasa dirinya sudah sesuai spesifikasi, maka harus mendapatkan apa yang sudah menjadi haknya. Dia menganggap ketika sudah memenuhi spesifikasi, maka Allah wajib memberikan apa yang menjadi impiannya. Dia menggugat Allah. Di samping itu juga, sangat kental nuansa Law of Attraction di balik kata memantaskan diri. Apa itu Law of Attraction? Itu adalah istilah modern untuk hukum karma dalam keyakinan hindu. Kita mendapatkan apa yang pantas kita dapatkan. Ketika kita ingin mendapatkan, maka kita harus memantaskan diri agar bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Memantaskan diri, dalam pandangan LoA, adalah dengan memancarkan frekuensi yang cocok ke alam semesta lewat pikiran. Ketika kita sudah memantaskan diri, maka kita akan menarik Allah untuk memberikan yang kita inginkan. Dan seolah-olah Allah akan bergerak sesuai dengan kepantasan kita, bukan sesuai dengan kehendakNya. Artinya dari kita yang bergerak, kemudian Allah yang memberi kita sesuai yang kita kehendaki. Seolah olah Allah menunggu kita untuk bergerak sebelum berkehendak. Seolah Allah tidak memiliki kehendak merdeka, melainkan harus menunggu frekuensi yang tepat dari hambaNya untuk bergerak. Kita harus menyesuaikan diri dengan jodoh kita, nanti baru Allah memberi jodoh yang sesuai. Dan dalam prakteknya, banyak sekali rumah tangga yang tidak berdiri di atas kecocokan seperti itu. Banyak orang yang nampak jodohnya tidak cocok dan tidak sesuai, ya ini karena memang yang berlaku bukan seperti yang teori memantaskan diri, yang meyakini bahwa jodoh adalah dari diri kita sendiri. Bukan seperti teori jodoh adalah dari usaha kita sendiri, bukan dari pemberian Allah. Dan bisa jadi menurut kita cocok, tapi menurut Allah tidak. Kita lebih percaya dan lebih menerima pilihan Allah daripada pilihan kita sendiri. Karena Allah Maha Tahu, sedangkan kita tidak. Banyak sekali yang jika kita lihat tidak cocok, tetapi nyatanya tetap berumah tangga hingga sekarang. Dan banyak sekali orang yang tidak pernah saling kenal sebelumnya, baru mengenal saat sesi perkenalan, tapi berumah tangga dengan indah. Bahkan ada yang sama sekali tidak pernah melihat istrinya sama sekali, baru melihat setelah melakukan akad nikah. Tapi rumah tangga mereka bahagia. Allah tidak menetapkan teori memantaskan diri seperti ini. Yang harus kita lakukan adalah kita beramal shaleh sebanyak mungkin, dan ini adalah tugas kita selama di dunia, apakah kita mau berjodoh atau tidak, tetaplah itu menjadi tugas kita kepada Allah. Kita kita harus mengejar rahmat Allah. Persoalan jodoh itu menjadi urusan Allah. Sebagaimana ada yang tidak diberi harta banyak di dunia ini, ada mereka yang tidak diberi jodoh. Tapi di sorga nanti, semua akan meraih jodoh. Di mana masalah teori memantaskan diri? Masalahnya adalah kita merasa bahwa jodoh adalah dari diri kita sendiri yang kemudian mengontrol Allah. Ketika kita tidak pantas, maka Allah tidak akan memberi. Konsekuensi teori ini adalah tidak ada Allah di dunia ini. Atau jika dipaksakan menganggap adanya Allah, maka Allah tidak memiliki kehendak sendiri, dan Allah dikontrol oleh kehendak hambaNya. Karena LoA pada dasar teori aslinya adalah teori yang meniadakan Allah, yang ada dalam kamus mereka adalah alam semesta, dengan kata semesta, mereka meniadakan Allah. Ketika kita ingin sesuatu, maka tinggal memikirkan, memancarkan gelombang ke semesta, maka semesta akan memproses permintaan kita, kita akan mendapat apa yang kita pikirkan. Semesta akan hanya memproses apa yang diminta dan dipikirkan oleh pikiran kita. Demikian keyakinan Law of Attraction yang menyimpang. Kita akan dapat apa yang kita pikirkan. Nah ini ada benang kesamaan dengan teori memantaskan diri, karena orang akan dapat apa yang sesuai dia usahakan. Ketika dia pantas mendapatkan jodoh dengan kriteria tertentu, maka dia akan mendapat apa yang pantas dia dapatkan. Kita diajak untuk memantaskan diri, agar kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Jadikan dirimu pantas mendapat apa yang diinginkan, maka kamu akan dapat apa yang kau inginkan. Inilah persamaan antara teori memantaskan diri dan LoA. Bagaimana jika kata alam semesta diganti dengan kata Allah? Ini tidak akan mengubah apa-apa, karena substansi inti dari LoA tidak akan bisa berubah hanya karena perubahan kata Allah. Alam semesta adalah ciptaan Allah, dan baru bereaksi ketika ada gelombang masuk dari pikiran manusia. Ketika tidak ada gelombang dari pikiran manusia, maka alam tidak bereaksi. Sama dengan teori memantaskan diri, kita akan dapat apa yang pantas kita dapatkan. Ketika kita memantaskan diri sampai pantas sesuai dengan apa yang kita dapatkan, barulah kita dapat apa yang pantas kita dapatkan. Maka bisa dibilang, teori memantaskan diri adalah hanya terjemahan dari LoA. Hanya ketika disampaikan di kalangan muslim, maka ditambahkan dengan diksi-diksi yang sesuai ajaran Islam, seperti ditambahkan kata dengan ibadah pada Allah? Pertanyaannya, apakah ibadah kita ini cukup untuk membayar Allah? Apakah hubungan hamba dengan Allah adalah hubungan antara buruh dan majikan? Bukan. Hamba ini terlalu lemah. Allah yang Maha Penyayang, berkenan memberikan rahmatNya pada kita. Juga dalam teori memantaskan diri adalah lebih parah ketika diterapkan dalam konteks Islam. Karena memantaskan diri mengandung adanya hak dan kewajiban. Seolah adalah dengan ibadah kita maka kita merasa pantas untuk mendapatkan. Seolah Allah wajib memberikan pada kita. Kita memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh, memantaskan diri dengan ibadah, pertanyaannya, apakah ibadah itu membuat kita pantas? Nah akhirnya merasa pantas diri, dan merasa diri ini layak, maka diri ini suah terjangkit kesombongan. Ketika kita mendapat sesuatu, kita bukan layak, tapi Allah yang memberi pahala dan balasan bagi kita. Allah yang mencurahkan rahmatnya. Karena amalan kita tidak akan bisa membuat pantas. Mari kita telaah hadits Nabi berikut ini عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ لَنْ يُنْجِىَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ ». قَالَ رَجُلٌ وَلاَ إِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلاَ إِيَّاىَ إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِىَ اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ وَلَكِنْ سَدِّدُوا ». Dari Abu Hurairah berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda Amal seseorang tidak akan menyelamatkannya. Seorang sahabat bertanya Engkau juga begitu wahai Rasulullah? Beliau menjawab bukan juga diriku, kecuali Allah mencurahkan rahmatNya kepadaku, tetapi berusahalah sekuat tenaga. HR Muslim Ketika amal sudah tidak bisa membuat kita layak masuk sorga, apalagi sekedar mendapatkan jodoh. Sedangkan sorga lebih tinggi nilainya dari sekedar jodoh. Apalagi ketika orang beramal untuk memantaskan diri, maka ada pergeseran niat yang luar biasa, niat bergeser dari mencari ridho Allah, dan mendapatkan sorga, menjadi beramal untuk memantaskan diri. Dan akan terjerumus pada paham merasa diri ini hebat. Mereka yang beramal dan beribadah hanya untuk mendapatkan jodoh amatlah rugi. Oleh Ustadz Syarif Baraja Source
memantaskan diri dalam islam