CeritaDewasa Ngentot Dengan Tante Saat Liburan ini berawal dari liburan kuliahku yang jadi awal cerita sex dewasa dan cerita seks panas ini Cerita Dewasa Kategori Umum Dengan Judul Dukun Cabul Kumpulan Cerita Sex Dewasa, Cerita mesum ngentot di taman terbuka, cerita hot pemerkosaan di jalanan, cerita anak perawan yang masih gadis, cerita memek
LiburanGunung Bromo (18 Januari 2015) Liburan Gunung Bromo (18 Januari 2015) Liburan Gunung Bromo (18 Januari 2015) AGYZTIA PREMANA January 17, 2016 Mas Agy - Cerita liburan bromo sudah lama tapi mas agy baru bisa update karena sibuk dengan koding koding bertaburan di otak, okay mari kita ceritakan liburan ini. Lets Go!! dan tidak cuma
TahunBaru yang gagal di Gunung Bromo. Ini cerita saya ketika malam tahun baru 2017. Setahun lalu saya ingin melihat matahari terbit atau sunrise di G. Jangan Pergi Liburan Tahun Baru ke Gunung Bromo! 31 Desember 2017 18:30 Diperbarui: 1 Januari 2018 20:20 4949 8 6 + Laporkan Konten. Laporkan Akun. Lihat foto Gunung Batok di sebelah Gunung
Akhirnya sampailah di puncak kawah Bromo.Tak kuat bertahan lama di puncak karena asap belerang yang menyengat, akhirnya kami putuskan untuk kembali ke tempat dimana landrover berkumpul.Sesampainya di tempat parkir landrover, kami istirahat sejenak dan beberapa kali jeprat jepret sekitaran landrover di parkirkan.
Suhusemakin dingin.Setelah beberapa menit menunggu, kami pun melihat jejeran pegunungan yang berdiri kokoh dihadapan kami, terdiri dari gunung batok, Bromo, widodaren, gunung Semeru, serta hamparan lautan pasir kecoklatan yang seakan menambah keeksotisan Bromo.Tepat pukul 05.07 pagi, sang fajar tepat berada di atas garis cakrawala.
DukunCabul Cerita Sex, Cerita Dewasa, cerita Hot - Mbah Jomblo adalah dukun sakti yang tinggal di desa pedalaman di lereng gunung di pula Foto Nikita Willy Telanjang Ngentot Istri Teman Watch Later Created Video: Dukun Cabul part 2by demetriuscardio 849 views; 2:24:26 ngentot,cerita ngentot,cerita ngetot dipijit tante,memek wanita paruh baya
. Pada tulisan kali ini saya akan menceritakan liburan saya di Gunung Bromo. Gunung Bromo adalah sebuah gunung berapi aktif di Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung Bromo terkenal sebagai objek wisata utama di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Gunung Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Cerita ini diawali dari keberangkatan kami sekeluarga dari Bogor. Kami berencana berlibur di daerah Malang dan mengunjungi berbagai objek wisata di Malang. Salah satu objek wisata tersebut yang menurut saya paling berkesan adalah Gunung Bromo. Kami menempuh perjalanan darat menggunakan sebuah mobil yang cocok untuk berjalan di daerah pegunungan. Perjalanan yang kami tempuh dari Bogor menuju Malang tidaklah sebentar. Butuh waktu sekitar 2 hari untuk sampai di Malang. Walaupun perjalanannya sangat lama, tapi perjalanan itulah yang membuat luburan menjadi menarik. Kami sampai di Malang pada malam hari. Kami langsung mencari sebuah Homestay untuk tempat kami menginap di daerah kaki Gunung Bromo. Kami menginap di Homestay karena semua kamar hotel di daerah Gunung Bromo telah habis. Jalanan di kaki Gunung Bromo pada malam hari sangat menyeramkan. Suasananya gelap sekali. Setelah mendapatkan Homestay, kami langsung menurunkan barang dari mobil lalu beristirahat karena kami harus bangun pagi-pagi sekali untuk melihat sunrise. Pagi harinya, sekitar 1 jam sebelum matahari terbit, kami langsung berangkat ke sebuah tempat yang paling tepat untuk melihat matahari terbit. Kami menuju tempat tersebut menggunakan sebuah mobil jeep yang kami sewa karena medan lintasannya yang sedikit berbahaya. Sesampainya di lokasi, saya sangat terkejut karena disana telah banyak orang. Rupanya kami bangun kurang pagi. Pada akhirnya, kami dapat melihat matahari terbit dengan sangat jelas karena ketinggian lokasinya sudah di atas awan. Setelah puas melihat matahari terbit, kami langsung menuju ke kawah raksasa Gunung Bromo. Kawah tersebut kelihatan seperti lautan pasir. Ada beberapa orang berjualan makanan dan minuman disana. Di kawah tersebut, kami lalu menunggang kuda untuk menuju ke sebuah kawah yang lebih kecil yang masih mengeluarkan asap. Kuda yang saya tunggangi hampir saja mengamuk. Saya hampir jatuh karena hal tersebut. Kawah kecil tersebut sangat tinggi sehingga kami harus menaiki tangga untuk melihat ke dalam kawah tersebut. Selanjutnya, kami kembali lagi menuju Homestay untuk mandi pagi dan sarapan. Setelah mandi dan sarapan, kami membereskan barang-barang kami dan meninggalkan Homestay untuk kembali ke Malang. Kami menggunakan rute yang berbeda saat kami kembali ke Malang. Rute yang kami gunakan adalah rute yang melewati lautan pasir. Dalam perjalanan, kami banyak foto-foto di daerah lautan pasir. Setelah beberapa menit perjalanan, kami melewati sebuah jalan yang sangat menyeramkan. Jalan tersebut hanya bisa dilewati oleh 1 mobil karena bagian kanan dan kiri jalan tersebut adalah jurang. Sesampainya di Malang, kami langsung menuju ke sebuah daerah bernama Batu. Disanalah kami menginap dan mengunjungi sebuah kebun binatang yang sangat terkenal di Malang. Keesokan harinya, kami melanjutkan lagi perjalanan pulang menuju Bogor. Mengunjungi Gunung Bromo membuat saya berpikir bahwa saya baru saja mengunjungi dunia mimpi dikarenakan sejauh mata memandang, hanya lautan pasir yang indah yang bisa terlihat. Saya sangat senang bisa berlibur ke Gunung Bromo.
Jakarta - Gunung Bromo menjadi salah satu ikon wisata alam di Jawa Timur. Tinggi gunung ini mencapai mdpl. Saat ini, Gunung Bromo masuk dalam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Bentuk gunung ini bertautan antara lembah dan ngarai dengan lautan pasir seluas 10 kilo meter persegi. Tak heran jika gunung ini ramai didatangi wisatawan domestik maupun Bromo menawarkan pemandangan alam yang asri, original dan menyegarkan jiwa. Destinasi wisata Gunung Bromo terdiri dari beragam keindahan alam khas pegunungan. Di sini, pengunjung bisa melihat perbukitan yang menghijau dengan rumput savana, mengelilingi lautan pasir yang membentang luas, hingga menikmati sunrise dari puncak gunung yang menakjubkan. Tak hanya itu, dikutip dari berbagai sumber, berikut beberapa objek wisata Gunung Bromo yang wanjib disembangi saat berkunjung ke sana1. Kawah BromoKawah Gunung Bromo adalah destinasi yang wajib disambangi. Di sana, pengunjung bisa melihat secara langsung kecantikan kawah Bromo yang begitu memesona dan alami. Untuk mencapai kawah Gunung Bromo, pengunjung hanya perlu berjalan kaki sekitar 2 km dari area parkir. Pengunjung juga dapat menyewa dan menaiki kuda untuk menuju kawah gunung Pasir BerbisikSebelum sampai kawah, pengunjung akan disambut dengan pemandangan hamparan pasir yang cukup luas. Hamparan pasir ini diberi nama Pasir Berbisik. Areanya cukup luas, sehingga memudahkan pengunjung untuk mengambil spot terbaik untuk berswafoto. Selain itu, di pasir berbisik ini pengunjung juga dapat menikmati kegiatan lain, seperti mengendarai motor trail, menunggangi kuda, dan lain Bukit Teletubbies BromoBukit teletubbies menjadi salah satu objek favorit bagi banyak wisatawan. Ini karena selain menawarkan pemandangan cantik Gunung Bromo dengan deretan bukit hijau, area bukit ini juga dapat menjadi spot foto terbaik. Bukit Teletubbies dipenuhi dengan rerumputan hijau yang sangat cantik dan terjaga Padang Rumput SavanaPadang rumput savana Bromo terletak di selatan timur gunung. Padang rumput ini terletak pada sebuah lembah hijau yang di kelilingi tebing-tebing menjulang tinggi dan beberapa punggung gunung kecil. Jalur mencapai savana adalah Lautan Pasir yang gersang, namun saat memasuki padang rumput pengunjung akan disuguhi pemandangan yang benar-benar hijau. Terletak di lembah jemplang, akses termudah untuk menuju Padang Rumput ini adalah dengan menunggangi kendaraan biasa atau sepeda motor via Malang atau Pura Luhur PotenDi sini pengunjung akan menemui tempat ibadah yang disebut Pura Luhur Poten. Pura ini merupakan tempat ibadah warga sekitar yang memeluk agama Hindu. Saat perayaan Nyepi tiba, kawasan ini selalu ramai oleh kunjungan warga lokal yang ingin melakukan ibadah. Biasanya, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger pun ikut ditutup demi kenyamanan warga yang ingin melaksanakan ibadahnya di Pura 6. B 29 ArgosariB 29 Argosari adalah salah satu spot camping favorit di daerah Bromo. Destinasi wisata yang satu ini memang cukup asing bagi pengunjung Bromo. Tempat ini merupakan puncak yang paling tinggi di kawasan Wisata Gunung Bromo, lebih tinggi dari penajakan 1. Udaranya yang dingin dengan pemandangan yang sangat indah serta ditambah hamparan tumbuhan khas dari dataran tinggi membuat kawasan wisata ini sangat sayang untuk Bukit MentigenBukit Mentingen merupakan spot view sunrise. Di sini, pengunjung cukup berjalan kaki saja dari area penginapan atau hotel di daerah Cemara Lawang Probolinggo. Walaupun tidak terlalu tinggi, Bukit Mentingen dapat menjadi alternatif terbaik jika mengunjungi Bromo dengan model backpacker, tidak membawa kendaraan sendiri baik roda 4 maupun roda Bukit KingkongBukit Kingkong telah menjadi salah satu tempat yang sering digunakan untuk melihat kecantikan sunrise di Gunung Bromo. Tempatnya tidak jauh dari penanjakan 1, jaraknya sekitar 2,5 km. Meskipun menjadi alternatif untuk melihat sunrise, namun tempat ini begitu populer di kalangan wisatawan. Sehingga untuk bisa menyaksikan keindahan sunrise pengunjung harus rela berdesakan dengan wisatawan lain yang juga ingin menyaksikannya dari bukit OKTAVIABaca Kawasan Wisata Gunung Bromo Ditutup Saat Ritual Yadnya Kasada
Siapa yang tidak bahagia saat keinginan hati yang sudah lama terpendam akhirnya Allah jawab lewat suami tercinta. Yaps, sudah lama sekali saya berkeinginan untuk menikmati keindahan alam Gunung Bromo, eh kemarin bulan januari tiba-tiba suami ngajakin pergi kesana bareng teman-teman kantornya. Mata saya pun langsung berbinar mendengar ajakan ini, tanpa pikir panjang, langsung kuiyakan ajakan suami hehe. Sebenarnya ke Bromo menjadi salah satu roadtrip kita waktu itu. Dari sekian obyek wisata yang kami kunjungi, Bromo menjadi trip yang paling menantang bagi kami karena kami membawa bayi berusia 10 bulan dan balita berusia 3 tahun 3 bulan. Yang paling kami khawatirkan saat itu adalah suhu di Bromo kadang bisa ekstrim hingga suhu minu, suhu tersebut tentunya kurang bersahabat dengan anak-anak. Apalagi rencana awal, kami nyampe sana dini hari, lalu mendaki dan bisa lihat sunrise. Duh nggak kebayang dinginnya kaya gimana . Saya juga sempat ragu, mau ikut mendaki dengan membawa si kecil atau tidak karena karena takut nanti membahayakan si kecil yang berusia 10 bulan. Alhamdulillah setelah mempertimbangkan satu dan lain hal terutama karena cuaca paa pekan tersebut tergolong ekstrim dan banyaknya anak-anak, jadwal perjalananpun diubah. Rencana awal yang rencananya berangkat hari jum'at siang tanggal 27 januari setelah shalat jum'at, diubah menjadi jum'at malam habis halat isya. Rombongan kami berangkat menggunakan bus ukuran sedang. Kami berangkat dari Semarang pukul nyampe resat area Malang tempat transit subuh pukul Setelah Sholat Subuh, kita bersiap-siap menuju Bromo menggunakan Hardtop tertutup. Mulailah kami melapisi pakaian kami dengan jaket tebal, menutup kepala menggunakan topi khusus yang sampai menutupi telinga, memakai sarung tangan, kaos kaki plus sepatu terutama untuk si baby. Oh iya supaya perjalanan nyaman dari Semarang-Malang ataupun sebaliknya, saya menyewa car seat untuk bayi saya, sehingga ibu dan bayi saya bisa sama-sama nyaman. Ngga kebayang kalau ngga bawa car seat ini, saya akan memangkunya selama berjam jam. Belum lagi kalau saya ngantuk, malah bahaya, si bayi bisa ngga terasa terjatuh, naudzubillah. Setelah siap semuanya, sekitar pukul kami berangkat dari meeting point menuju Bromo. Perjalanan menuju sana sekitar 1,5 jam-an. Medan yang berkelok, menanjak, sempit dan curam cukup membuat jantung ini dag dig dug ngga karuan. Jadi saya sarankan, kalau mau ke Bromo yaa pakai kendaraan khusus kaya hardtop ini dengan supir yang sudah tahu medan tentunya. Banyak kok yang memfasilitasi jasa sewa ini di sini. Jangan nekad bawa kendaraan sendiri, nyetir sendiri kalau belum tahu medan ya. Tapi kebijakan setempat, hanya mobil hartop atau jeep yang tergabung dalam paguyuban yang boleh lewat dan melintas ke kawasan bromo. Semakin jauh hardtop melaju menaiki dataran yang semakin tinggi, makin terasa banget hawa dingin yang semakin menusuk tulang. Anak balita saya yang tadinya tidak mau memakai jaket pun akhirnya mengeluh "mi...dingin..brr". "Dipake jaketnya to nduk, dari tadi juga sudah ummi suruh pake jaket". Eh tetap saja dia ngga mau pake, hiks. Memang umur-umur segitu, lagi masa-masanya nggak bisa dibilangin, keras memegang prinsip hehe. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah, serba hijau dimana-mana, benar-benar masih asri alami, ya iyalah namanya juga di gunung hehe. Cocok buat kamu-kamu yang hidup di kota yang ingin menghirup udara bersih dan menyegarkan. Puncak keindahan itu terasa ketika tiba-tiba sopir menepikan hardtopnya dan membuka pintu hardtop. MasyaAllah ini indah sekali, kulihat gunungan-gunungan kecil yang sangat indah yang ditumbuhi rerumputan khas pegunungan, seolah-olah membawa kami berasa masuk film teletubies. Ternyata oh ternyata ini yang dinamakan Bukit Teletubies. Pantas saja masyarakat suku tengger menamainya Bukit Teletubies, ternyata memang bentuknya mirip Bukit Teletubies yang ada di film Teletubies . Rombongan kami yang tersebar dalam enam hardtop pun turun, lalu mengabadikan setiap sudut keindahan yang ada di sini. Dinginnya udara sekitar bukit yang semakin menusuk tulang, tidak kami hiraukan demi mengabadikan moment dengan latar yang maha indah ini. Entah berapa kali difoto saking indahnya alam di sini, hehe. "MasyaAllah, ko bisa rapih tertata kaya gini yaa, mungkinkah ada orang yang ditugaskan untuk mengurus perbukitan ini?". eh suami langsung nimpali "yaa ngga ada lah, ini murni Allah yang membuat dan menjadikan seperti ini. mana ada orang yang mau ngurus alam seluas ini". "hehe iya bi, ummi hanya terkagum-kagum melihat pemandangan alam yang seperti ini". Selain Bukit Teletubies, di sini kita juga bisa menikmati keindahan Padang Rumput Savana yang sangat luas. Padang rumput ini terletak pada lembah hijau, dikelilingi tebing-tebing menjulang tinggi dan beberapa gunung-gunung kecil. Setelah puas foto-foto disekitaran Bukit Teletubies, kamipun bergegas menuju Gunung Bromo. Sesampainya di sana, seperti biasa kami mengabadikan moment bersama kembali alias foto-foto, hehe. Setelah itu, menuju area pendakian. Berhubung kami banyak yang bawa anak kecil, akhirnya demi efisiensi tenaga dan waktu, kami memutuskan untuk melakukan pendakian dengan menggunakan kuda. Jujur ini pengalaman pertama bagi saya, antara pengen nyoba karena penasaran dan takut kalau nanti jatuh apalagi saya bawa anak. Bismillah, akhirnya mencoba memberanikan diri dengan melawan rasa takut ini. Kami berpasang-pasangan naik kuda, saya sama si kakak, sedangkan suami sama si adek. Eh pas udah berani, baru mau naik kudanya saja udah susah ternyata temans, hiks. Tadinya udah mau nyerah aja, ngga jadi naik, mending jalan. Beuh cemen banget dah gw hehe. Tapi terus dimotivasi suami supaya bisa nenangin diri. Alhamdulillah akhirnya berhasil!, yeay. Lalu berjalanlah kuda kami. Eh baru awal-awal kuda melangkah, badan ini serasa menegang dan tak henti-hentinya ngomong supaya pak guide yang menuntun kuda kami berjalan pelan, untung bapaknya sabar ngelayani emak-emak kaya saya, hihi. Kuda kami melangkah sangat pelan, sedang kuda teman-teman yang lain melangkah cukup cepat sampai-sampai tidak kelihatan ekor kuda mereka, hihi ngga apa apa, alon-alon sing penting kelakon nyampe. Hanya suami yang setia mendampingi disamping kuda saya, "Tenang bu yang santai, nanti kalau tegang malah jatuh", kata pak guide. Sepanjang perjalanan bapaknya ngajak ngobrol terus, Alhamdulillah malah jadi teralihkan rasa takut saya dan mulai bisa mengimbangi irama kuda. Benar memang, kunci utamanya itu harus rileks. Anak saya, Kamila 3 tahun 3 bulan malah dari awal naik sudah bisa tenang dan bisa mengikuti ritme kuda. Saat berkuda, ketika melewati jalan lurus atau mendaki, badan kami diminta agak condong ke depan dan kaki menginjak tapal kuda seperti biasa. Namun berbeda ketika melewati jalan menurun, kaki menginjak tapal kuda lalu diarahkan ke depan, sedangkan badan agak ndengak kebelakang. Katanya biar aman, begitu aturannya. Oke saya nurut aja pak, daripada kenapa-napa, hehe. Karena jalan pelan-pelan, dari parkiran sampe hampir puncak, menghabiskan waktu sekitar 30 menitan. Setelah Turun dari kuda, tantangan selanjutnya adalah menaiki tangga yang menjulang tinggi. "Duh, kuat ngga yaa?" mbatinku. Yeah akhirnya nyampe atas juga walau belum nyampe puncak sih, hehe Tadinya hampir nyoba menaiki tangga-tangga itu, udah tinggal 1/4 jalan lagi masa disia-siain ngga klihat kawah? pengen tahu keindahannya Bromo secara sempurna. Qodarullahnya pas mau naik, saya ketemu teman satu rombongan. "mba, jangan naik ke atas kalau bawa anak-anak, kasian asap belerangnya mengganggu pernafasan", ujarnya. Akhirnya kuurungkan keinginanku untuk mendaki sampai puncak, demi kebaikan si kecil. Dan benar adanya, setelah teman-teman lain yang mendaki turun, mereka cerita kalau asap belerangnya bikin batuk-batuk. Alhamdulillah, berarti keputusan kami sudah tepat. Hanya sekitar 20 menitan kami berada di atas, setelah itu naik kuda kembali dan menuruni jalan. Alhamdulillah perjalanan pulang kali ini lebih cepat daripada pas berangkat, karena diri ini jauh lebih tenang. Yess akhirnya aku bisa menaklukkan diri sendiri hehe. Sewaktu perjalanan pulang, tiba-tiba aku mendengar suara desisan pasir yang khas saat tertempa angin. Ternyata oh ternyata itu suara pasir yang saling bergesekan. Pantas saja, masyarakat di sini menyebutnya dengan pasir berbisik, unik yaa namanya. Tapi saya sarankan pas di sini kalian kudu pakai kacamata yaa temans, soalnya pasirnya pada bertebrangan masuk mata semua, hiks. Pas berangkat sih enggak, soalnya pasirnya masih basah kena guyuran hujan malamnya. Pasir berbisik atau Lautan Pasir ini tidak dimiliki oleh gunung berapi manapun kecuali hanya satu yaitu Gunung Bromo. Pemandangan yang mempesona di Gunung Bromo ini selain bisa melihat hamparan lautan pasir, juga terselip pemandangan lereng-lereng kalendra sebagai pembatas lautan pasir dengan hutan Gunung Bromo sebagai pelengkap keindahan di mata kita. Alhamdulillah petualangan ke Bromo berjalan dengan lancar, hal-hal yang tadinya saya cemaskan tidak terjadi hehe. Sebenarnya selain cuaca yang lagi dingin-dinginnya karena lagi musim hujan, hal lain yang bikin khawatir adalah lamanya perjalanan kesana karena kami menggunakan bus. "Duh, anakku betah ngga yaa di jalan, pp sekitar 16 jaman lebih ?!". Memang si, beberapa kali bayi saya sempat rewel, tiap berapa jam nangis mungkin dia ngga nyaman, walau saya sudah bawa car seat khusus bayi. Tapi yaa tetep saja dia bosen dan ngga betah karena lama di jalan. Coba kalau naik pesawat yaa, pasti akan lebih singkat jarak tempuhnya dan si kecil lebih nyaman hehe. Next time semoga bisa kesampaian traveling ke Malang pakai pesawat. Banyak banget obyek wisata yang belum kusambangi di sana. Kemarin baru Bromo, Jatim Park 1, BNS dan tempat buat beli oleh oleh. Mau nyari tiket pesawat ke Malang di Pegipegi ah, kata orang sih murah hehe. Secara traveling kan butuh budget yang tidak sedikit yaa, jadi harus pinter-pinter ngatur uang, yaa nggak?! Gampang banget pesen tiket di Pegipegi tuh. Tinggal buka web Pegipegi terus isi kolom-kolom seperti yang tertera pada gambar di atas. Tentukan kota asal, kota tujuan, tanggal pergi pulang dan jumlah orang yang ikut, lalu klik cari tiket, pilih mau pakai maskapai apa, berangkat jam berapa, terahir pesan tiket, selesai Gampang kan?! Semoga harapan saya ini bisa tercapai yaa temans. Teman-teman yang punya rencana traveling pake pesawat, boleh dicoba pake fasilitas ini yaa Nah sekian sobat cerita pengalaman saya berlibur bareng keluarga ke Gunung Bromo, semoga ada pelajaran yang bisa diambil yaa. Aamiin. Terahir ada sedikit quotes dari saya "bertafakur alam lah, maka kamu akan melihat betapa Allah itu maha besar dengan segala penciptaannya". Yuks ah ke Bromo, nikmati keindahannya Sampai jumpa lagi dicerita saya berikutnya yaa.. Wassalamu'alaikum
Alhamdulillah, liburan sekolah bulan Juli kemarin, kami sekeluarga bisa berlibur ke Malang. Ini adalah pertama kalinya anak-anak menginjakkan kaki di Jawa Timur, jadi mereka sangat gembira. Apalagi kami sengaja naik kereta saat berangkat. Salah satu rencana kami adalah mengunjungi Gunung Bromo. Dari hasil bertanya kepada beberapa teman, hasil googling, akhirnya kami memutuskan untuk melihat matahari terbit di Bromo. Sebenarnya ini tidak direkomendasikan oleh teman saya, karena kami harus berangkat dini hari dari Malang, tempat kami menginap. Salah satu alternatif bisa menginap di daerah Bromo, tapi karena sudah telanjur booking hotel di Malang, kami memutuskan berangkat dari Malang. Dengan beberapa pertimbangan, juga melihat anak-anak kami yang memang sudah biasa bepergian jalan darat sejak mereka bayi, kami memutuskan ke Bromo dini hari untuk melihat matahari terbit. Saya lalu mencari travel untuk ke Bromo-nya. Ternyata ada banyak pilihan paket tour yang ditawarkan oleh travel lokal di sana. Saya juga mendapatkan rekomendasi dari pihak hotel. Ternyata travel yang sama pernah dipakai oleh teman saya yang lain, dan hasilnya memuaskan. Akhirnya kami mantap memilih tur rekomendasi hotel. Pada hari yang telah ditentukan, pukul kami dijemput di hotel oleh pihak travel. Saya sudah memasang alarm untuk bangun pukul dan ternyata tepat saya bangun, ada telepon dari resepsionis bahwa kami sudah dijemput. Untung saya sudah bersiap-siap pada malam harinya, sehingga saya cukup membangunkan anak pertama dan kedua kami untuk sikat gigi dan berganti baju saja. Untuk si bungsu, cukup saya kenakan jaket dan langsung saya gendong. Alhamdulillah si bungsu tidak rewel dan langsung pulas kembali. Perjalanan dari Malang ke Bromo memakan waktu kurang lebih 2 jam. Kakak Shafa dan Mas Hafiz langsung pindah tidur saja. Begitu juga Dek Reefa. Alhamdulillah karena masih minum ASI, kalau terbangun langsung saya susui, dan langsung terlelap lagi. Kami memakai mobil jenis Trooper. Sebenarnya pada awalnya suami tidak setuju, minta ganti Innova/APV, dan baru berganti jeep di Pananjakan, tempat kami akan melihat matahari terbit sebelum ke kawah Bromo. Tapi pihak travel menyarankan tetap memakai Trooper saja karena kondisi jalanan. Dan memang akhirnya kami lihat selama perjalanan tidak kami temukan jenis mobil pribadi, semua mobil yang menuju Bromo jenisnya jeep/trooper. Dalam perjalanan kami ke Penanjakan, tempat kami akan melihat matahari terbit, kami diberi tambahan seorang pemandu wisata bukan supirnya, yaitu mahasiswa jurusan pariwisata yang sedang kerja lapangan di travel tersebut. Pukul kami sampai di Penanjakan, setelah parkir kami menuju warung-warung yang ada di bagian bawah Pananjakan. Kami mendapatkan teh hangat untuk mengatasi dingin yang langsung terasa begitu kami turun dari mobil. Di warung-warung itu juga tersedia mie instan dan pisang goreng. Di sekitar warung-warung kopi ini, juga banyak warung suvernir, yang menjual jaket, syal, topi, dll. Bahkan ada persewaan jaket juga. Oh iya, kalau mau buang air kecil, di warung-warung ini juga ada toilet yang lumayan bersih.< Pukul kami berjalan menuju ke tempat melihat matahari terbit. Ada beberapa anak tangga menuju ke lokasi. Sampai di atas, kami melihat tempat duduk besi berjajar-jajar untuk melihat matahari terbit. Sayang di bagian paling depan, banyak orang berdiri, bahkan naik ke tembok pembatasnya untuk mengambil foto. Dari keadaan gelap gulita, lama-lama mulai terlihat semburat kuning jingga, matahari mulai muncul malu-malu, sampai akhirnya matahari bersinar terang, sungguh suatu pengalaman yang tak terlupakan buat anak-anak kami. Bagi saya dan suami, ini menjadi pengingat untuk lebih bersyukur atas semua karunia Allah yang tiada taranya ini. Sayang saat itu, awan dan kabut agak menutupi saat matahari mulai terbit, tapi tetap saja indah menurut kami. Dari Penanjakan, kami menuju ke kawah Bromo. Sebelumnya mobil kami melewati jalan setapak bukan jalan umum, kata supir kami, jalan ini menuju pemandangan negeri di atas awan. Sesampai di lokasi, ternyata benar-benar ada awan di dekat kami. Pemandangan negeri di atas awan itu maksudnya pemandangan tiga gunung yaitu Gunung Bathok, Gunung Semeru, dan Gunung Bromo. Jalan menuju ke kawah Bromo berkelok-kelok menuruni perbukitan. Sayang jalanannya rusak parah, belum lagi kalau turun hujan, kondisi jalanan pasti makin parah. Tentu saja ini menjawab pertanyaan kami kenapa hanya mobil jenis jeep saja yang bisa melewatinya. Saya sempat membayangkan, andaikan jalanan menuju kawah Bromo ini bisa seperti kelokan 44 menuju Danau Maninjau di Sumatera Barat, pasti pariwisata Bromo akan lebih ramai. Setelah melewati kelokan yang panjang dan bergelombang, sampailah kami di bawah yaitu di padang pasirnya. Tidak berapa lama kami sampai di kawah Bromo. Dari tempat parkir kami menuju ke tanjakan tangga menuju kawah bisa berjalan kaki atau naik kuda. Biaya naik kuda sekali jalan Di tempat parkir juga banyak meja penjual kopi dan mie instan. Juga ada toilet yang lumayan bersih. Sayang anak-anak tidak ingin naik ke kawahnya, padahal kami ingin sekali mencobanya. Konon ada 200 tangga dari dasar ke atas kawah Bromo. Tapi kami mengikuti kemauan anak-anak. Setelah sarapan roti tawar yang kami dapatkan dari tur, ditambah mie rebus dan mie goreng, kami melanjutkan perjalanan ke padang Savana dan Pasir Berbisik. Duh hamparan rumput kering kekuningan di padang luas seperti ini, sungguh membuat hati ini senang. Reefa sangat puas berlarian di sini. Sayang sewaktu d isini, Kakak Shafa ketiduran di mobil. Sebetulnya masih ada 2 tempat yang ditawarkan yaitu ke air terjun Madakaripura dan Candi Singosari. Sewaktu menuju Candi Singosari ternyata semua anak-anak terlelap tidur, akhirnya kami memutuskan kembali ke Malang. Walaupun tidak semua tujuan tercapai, kami gembira dan senang melihat anak-anak bisa melihat dan merasakan petualangan yang dekat dengan alam. InsyaAllah makin menambah cinta tanah air dan lebih bersyukur atas semua karunia-Nya. Amiin. Tips melihat matahari terbit di Bromo Pastikan semua sudah disiapkan malam sebelumnya, baju hangat/jaket, syal, topi, sepatu dan kaos kaki wajib dipakai. Sebenarnya suhu di Bromo sewaktu matahari terbit itu seperti suhu pagi hari di Puncak, tapi memang sedikit lebih dingin. Untuk Mas Hafiz yang memang tidak tahan dingin, perlu jaket lebih tebal. Bawa bekal makanan/minuman secukupnya. Biasanya travel menyediakan menu sarapan pagi kami mendapatkan roti tawar isi beberapa variasi. Di setiap lokasi Penanjakan dan kawah Bromo banyak dijumpai penjual minuman hangat, gorengan dan mie instan. Siapkan kamera, beserta cadangan baterai kalau perlu, sayang kalau sampai tidak mengabadikan keindahan alam Bromo. Untuk anak yang suka mabuk, siapkan fisik dan obat yang diperlukan. Mengingat jalur yang berkelok dan rusak parah, perlu diperhatikan kondisi fisik anak-anak. Selamat berlibur!
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. salam kawan, aku mau berbagi pengalan ni untuk kalian yang suka jalan-jalan. kali ini aku mau berbagi pengalamanku ketika mengunjungi gunung bromo, Gunung Bromo merupakan salah satu tujuan wisata di Jawa Timur. Tempat wisata alam ini terletak di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di timur kota Malang, Jawa Timur. Pengunjungnya bukan hanya wisatawan lokal, bahkan banyak yang berasal dari luar negeri. Dengan pemandangan yang khas membuat Bromo layak menjadi tujuan wisata. langsung aja ni sedikit cerita, waktu itu kami mengunjungi bromo bersama teman-teman kerja, saat itu kami menuju kota malang menggunakan bus pariwisata yang mengantarkan kami menuju salah satu rumah makan sebelum kami menuju gunung bromo. saat itu kami tiba di rumah makan waktu maghrib, setelah sholat kemudian dilanjutkan makan malam, setelah itu kami ganti kendaran menggunakan mobil sejenis suttle yang mengantar kami menuju salah satu hotel di gunung bromo, dari tempat kita makan menuju ke hotel sekitar 1 jaman si. saat itu memang kami tidak bisa melihat pemandangan yang menakjubkan, maklum karna hari sudah gelap hehehehee. setelah sampai kami langsung mandi, untung aja di hotelnya menyediakan air panas untuk mandi soalnya di sana sanggaaattt dingin sekali brrrrrr. kemudian kami istirahat karena pagi-pagi sekali kami harus bangun menuju penanjakan untuk menjemput sun rise. pagi pun tiba kami bangun jam 3 pagi, saat itu kami sudah di jemput jeep karena untuk menuju pananjakan atau lautan pasir bromo kita harus menaiki jeep. kami langsung di antar menuju penanjakan nah kebetulan saat itu adalah hari minggu jadi sangat rame dengan pengunjung yang begitu banyak, hingga mobil jeep kami macet akhirnya kami harus berjalan kaki, tapi hal itu sangat menyenangkan karna sambil berjalan kaki kami disuguhi pemandangan alam ciptaan tuhan yang sangatttt luar biasa hingga kami tidak bisa merasakan capek dan tidak bisa berkata-kata. hingga akhirnya tidak terasa kami sampai di puncak tepat di saat sang surya menapakkan sinarnya, semakin lengkap sudah keindahan gunung bromo yang sangat menakjupkan hhe. maka dari itu kami tidak akan melupakan pengalaman yang sangat luar biasa itu, dan kalau di suruh kesana lagi rasanya tidak mau menolak hihihihi Lihat Travel Story Selengkapnya
cerita liburan ke gunung bromo